Ada sejumlah kejanggalan Kecelakaan Sukhoi Superjet 100

Bookmark and Share
Sukhoi.org

Farhan Share, berita - sobat baru-baru ini nusantara kembali digentarkan sekali dengan terjadi-nya musibah yang menimpa sukhoi superjet 100, yang menabrak dan kandas di atas gunung salak, ketika Pilot meminta izin kepada ATC untuk menurunkan ketinggian pesawat dari 10.000 kaki jadi ke 6.000 kaki, dan lebih dari 45 nyawa pun melayang.

seperti yang farhan lansir dari kompas  memang mengenai musibah jatuhnya pesawat sukhoi superjet 100 ini di temukan beberapa kejanggalan, yang tidak wajar. Sampai saat ini pun Pencarian mengenai blackbox pesawat super canggih buatan Russia itu, yang hilang masih di lanjutkan oleh KNKT nasional + tim gabungan Russia.

Kata sukamto, Safety Manager PT Sky Aviation, perusahaan itu sebelumnya tertarik membeli  pesawat sukhoi superjet 100 tersebut, menyadari banyak kejanggalan dalam kecelakaan naas itu. Yang paling aneh adalah ketika pilot berniat untuk menurunkan pesawat dari 10.000 kaki menjadi 6.000 kaki sedangkan ketinggian Gunung salak mencapai 6.800 kaki, itu adalah hal yang tak wajar.

"Seharusnya pilot menyadari bahwa seandainya di depan pesawat ada awan di depan, Lebih aman jika pesawat itu naik ke atas karena itu kan area pegunungan "jadi rawan untuk berbenturan" , Ujar Sukanto.

Selain itu pesawat canggih sukhoi superjet itu juga harusnya mampu melewati turbulance yang timbul jika pilot tetap melaju melintasi awan. "Selama sistem navigasinya mumpuni, seharusnya pesawat bisa melewati awan itu. Saya juga tidak tahu kenapa pilot sampai berani menurunkan hingga 4.000 kaki, padahal itu sangat  beresiko, Ujarnya.

Ia pun mempertanyakan kenapa pihat dari ATC memberi izin untuk menurunkan ketinggian pesawat dari 10.000  kaki menjadi 6.000 kaki kepada pilot. Ternyata ATC memberikan izin karena Pilot meminta izin untuk mendarat di landasan atang sanjaya karena daerah tersebut kawasan aman, tapi justru sebaliknya pesawat malah mengarah ke arah lereng gunung salak, dan pesawat ada juga kemunkinan terbang rendah di kawasan tersebut.

"Kalau pesawat komersil biasa, prosedur turun dari 10.000 menjadi 6.600 belok kiri di atang sanjaya, lalu belok kiri lagi dari 6.000 ke 2.500 saat masuk ke halim. Itu yang saya tidak mengerti, kenapa justru pesawat berbelok ke arah kanan bukan ke kiri, Walaupun dalam kondisi joyflight tidak ada aturan apapun.....", Ujar sukamto.

Editor By : Farhan
Source : Kompas


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar